12/03/2008

Executive Information Systems

A Cross-Cultural Study of Executive Information Systems

Introduction
Kebanyakan dari negosiasi dan komunikasi lebih banyak tidak memperhatikan batasan-batasan nasional, sikap-sikap terhadap nilai dari bermacam jenis informasi, sistem informasi, dan teknologi komunikasi berpencar dimungkinkan untuk berubah secara sistematis lintas budaya; seperti perbedaan budaya memerlukan untuk dimengerti sebelum teknologi informasi dikembangkan untuk sebuah organisasi dalam satu negara dapat menjadi diterapkan secara efektif dalam sebuah divisi di negara lainnya.
  • Studi yang dilakukan adalah memeriksa perbedaan budaya yang mempengaruhi kegunaan dan pengaruh dari Executive Information Systems
  • EIS secepat kilat menjadi alat akses informasi untuk semua tingkat di dalam sebuah organisasi.
  • Mungkin menyebabkan kecenderungan untuk transfer IT menjadi eksekutif dalam negara lainnya tanpa mengusahakan analisa persyaratan yang baru
The Theory and Hypotheses
  1. Factors that influence the use of EIS
    • Sebuah lingkungan eksternal organisasi mempengaruhi kebutuhan pembuat keputusan untuk mengumpulkan dan memproses informasi.
    • Satu bentuk dari ancaman lingkungan bergabung dengan zaman sesudah industri adalah kebutuhan untuk membuat keputusan strategi secara cepat.
    • “Another factor that may affect the decision to utilize an EIS is the desire for high quality, easily accessible information.”
  2. Cultural Dimensions and EIS Use
  • Uncertainty avoidance is the degree to which members in society feel uncomfortable with uncertainty and ambiguity which leads them to support beliefs promising certainty and to maintain institutions protecting conformity.
  • Individualism is the preference for a loosely knit social framework in society in which individuals are supposed to take care of themselves and their immediate family as opposed to collectivism in which there is a larger in-group to which is given unquestioning loyalty
Methodology
  1. Operationalization of variables
  • Reasons for EIS Use variables
  • EIS Use variables
  • EIS Outcome variables
2. Selection of respondents

BARCODE

What is barcode?
Barcode adalah informasi terbacakan mesin (machine readable) dalam format visual yang tercetak.
  • Umumnya barcode berbentuk garis-garis vertikal tipis tebal yang terpisah oleh jarak tertentu.
  • Barcode menggunakan sistem biner untuk coding dan decoding. Garis merepresentasikan ‘1’ dan spasi merepresentasikan ‘0’ dari sistem.
History of barcode
  • Pada tahun 1948 terdapat percakapan antara seorang presiden direktur perusahaan jaringan makanan dengan Dekan Institut Teknologi Drexel.
  • Isi percakapan : pak direktur meminta pembuatan alat yang bisa membaca informasi produk secara otomatis, ketika pembeli keluar dari toko. Tetapi pak dekan tidak menyanggupi.
  • Benhard Silver, mahasiswa pascasarjana mencuri dengar percakapan tersebut dan diceritakanlah hal tersebut kepada sahabatnya Norman Joseph Woodland, seorang Dosen di Drexel.
  • Mulanya mereka menggunakan pola dari tinta yang akan berpendar dibawah sinar ultra violet. Akan tetapi banyak kendala yang ditemui.
  • Setelah beberapa bulan jatuh bangun, mereka akhirnya sampai dengan kode-kode batang khusus (linier Barcode)dan segera saja mereka mematenkan hal tersebut per tanggal 20 oktober 1949.
  • Temuan barcode ini di akui per tanggal 7 oktober 1952. Dan sistem barcode pertama kali dipasang pada sebuah toko bernama Kroger di Cincinati.
  • Tahun 1969, Asosiasi Nasional Jaringan makanan AS berinisiatif membuat sistem barcode yang secara serempak di pakai industri. hasilnya Uniform Product Code (UPC), simbol ini terpakai sampai sekarang.